Blangpidie – Dalam sepekan terakhir, pasokan ikan hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengalami penurunan, sehingga memicu kelangkaan di daerah tersebut.
Panglima Laot Kabupaten Abdya, T. Indra Kusuma atau yang akrab disapa Acek Muntir, membenarkan terjadinya kelangkaan hasil tangkapan laut yang dialami para nelayan sejak awal Agustus.
“Iya benar, ada kelangkaan ikan sejak sepekan terakhir ini, mulai dari tanggal 1 sampai 8 Agustus 2026. Hal ini terutama disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem seperti angin badai di tengah lautan, sehingga boat-boat nelayan harus merapat dan berlindung ke pulau terdekat,” ujar Acek Muntir saat dikonfirmasi, Senin (10/8/2026) malam.
Meski sempat terhenti akibat cuaca buruk, Acek Muntir menyampaikan bahwa kondisi saat ini mulai berangsur-angsur membaik seiring dengan kembali melautnya para nelayan.
Menurut Acek Muntir, selain faktor cuaca, pemicu minimnya hasil tangkapan nelayan juga disebabkan maraknya pemasangan rumpon liar oleh armada kapal (boat) luar daerah di perairan Abdya.
Kapal-kapal besar itu berasal dari Jakarta, Sibolga, hingga Banda Aceh memasang rumpon hingga jarak 300 mil dari bibir pantai.
“Rumpon-rumpon ini sudah seperti pagar di laut. Akibat terlalu banyaknya rumpon, ikan yang seharusnya masuk ke perairan Abdya terkuras habis oleh boat-boat dari luar daerah tersebut,” jelasnya.
Tak hanya itu, kendala lainnya yang menghambat aktivitas nelayan lokal adalah ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi yang kian terbatas.
Sedangkan, jumlah armada tangkap nelayan di Abdya terus meningkat setiap tahunnya, namun tidak diimbangi dengan penambahan kuota solar subsidi dari pihak Pertamina.
“Kebutuhan BBM solar subsidi sangat terbatas, sementara jumlah boat nelayan makin hari makin bertambah. Kondisi ini sangat mempengaruhi aktivitas nelayan sehari-hari dalam melaut,” ungkap Acek Muntir.
Di sisi lain, lanjutnya, kelayakan fasilitas infrastruktur pelabuhan di Abdya dinilai masih belum memadai jika dibandingkan dengan kabupaten tetangga.
“Harapan kami ada pelabuhan yang layak sandar, salah satunya di kompleks TPI Susoh, seperti pelabuhan sandar yang ada di Aceh Selatan. Bahkan di sana, satu kecamatan bisa punya dua pelabuhan yang layak sandar. Sementara kita di sini setiap tahun rajin membayar pajak boat, tapi belum punya pelabuhan yang layak,” kritiknya.
Oleh karena itu, Acek Muntir berharap ada langkah konkret dari Pemerintah Aceh, Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, DPR RI, DPRA, Pertamina, hingga Panglima Laot Provinsi Aceh untuk turun tangan menuntaskan persoalan tersebut mulai kelayakan infrastruktur pelabuhan yang belum memadai hingga keterbatasan BBM untuk armada nelayan di Abdya.
“Mudah-mudahan Pak Gubernur Aceh, DPR, Panglima Laot Provinsi Aceh, serta Dinas Kelautan Aceh ada perhatian khusus terhadap nelayan di Kabupaten Abdya, terutama dengan membangun pelabuhan sandar di Ujong Serangga Susoh. Karena nelayan Abdya juga ingin bahagia dan sejahtera seperti nelayan daerah lain di Aceh,” ucapnya.
Lebih lanjut, Acek Muntir juga mengimbau seluruh nelayan lokal Abdya untuk tetap menjaga kelestarian ekosistem laut dengan tidak mengoperasikan pukat harimau maupun menggunakan racun potasium yang dapat merusak terumbu karang dan mematikan benih ikan. (*)




