Blangpidie – Pemandangan sepi pembeli di sejumlah toko pakaian, kosmetik, hingga peralatan rumah tangga di kawasan pasar pusat kota Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), kerap memicu persepsi bahwa daya beli masyarakat sedang anjlok.
Namun, anggapan tersebut dinilai tidak sepenuhnya tepat oleh para pengamat.
Fenomena sepinya pusat perbelanjaan konvensional saat ini bukan disebabkan oleh keterpurukan ekonomi warga, melainkan dampak dari pergeseran pola konsumsi masyarakat yang kian masif beralih ke transaksi digital (e-commerce).
Ribuan paket belanjaan kini langsung mengalir deras ke rumah-rumah warga tanpa lagi melewati mekanisme pasar offline.
Pengamat ekonomi daerah sekaligus mantan anggota DPRK Abdya, Elizar Lizam SE, Ak, mengungkapkan realitas di lapangan yang menunjukkan betapa tingginya angka belanja online masyarakat saat ini.
Menurut pria yang akrab disapa Adun tersebut, perputaran barang melalui jasa pengiriman di Abdya sangat luar biasa setiap harinya.
“Minggu lalu saya sempat membagikan potret salah satu jasa kurir. Tadi pagi, saya coba bertanya langsung berapa jumlah paket yang mereka antar setiap harinya. Ternyata, khusus dari satu penyedia jasa kurir saja, ada sekitar 5.000 paket yang masuk harian. Jika ditotal dengan empat penyedia jasa kurir lainnya di wilayah ini, tidak kurang dari 15.000 paket tiba setiap hari tanpa melalui mekanisme pasar tradisional,” ujar Elizar saat berbincang santai sembari menikmati kopi pagi di Blangpidie, Sabtu (5/9/2026).
Elizar menuturkan, tingginya volume paket harian tersebut menjadi bukti kuat bahwa roda ekonomi dan daya beli warga sebenarnya tetap tumbuh pesat.
“Oleh karena itu, kurang tepat jika ada pihak yang terburu-buru menyalahkan pemerintah terkait kelesuan aktivitas di pasar fisik,” jelasnya.
Melihat tantangan perubahan zaman ini, Elizar mendorong para pelaku usaha konvensional agar tidak tinggal diam dan segera mencari terobosan kreatif guna merangsang kembali minat pembeli datang langsung ke toko.
“Sudah seharusnya pedagang offline segera mencari jalan agar toko mereka kembali bergairah, misalnya saja dengan membuat gebyar discount sebulan sekali atau obral murah stock lama di gudang. Mungkin dengan cara ini akan sedikit membuat gairah pasar kembali bergeliat,” ungkapnya.
Tak hanya bagi para pedagang, Elizar juga mengingatkan pentingnya peran aktif pemerintah daerah untuk hadir dan memikirkan formulasi kebijakan yang tepat.
Menurutnya, langkah konkret dari pemerintah sangat diperlukan agar dinamika perdagangan lokal tetap bergairah dan identitas historis daerah Blangpidie sebagai Kota Dagang tidak meredup.
“Pemerintah daerah perlu ikut turun tangan memikirkan langkah antisipasi dan pembinaan digital bagi pedagang lokal, agar nama besar Blangpidie sebagai kota dagang tidak tinggal sejarah,” pungkasnya. (*)




