Blangpidie – Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) merespons tegas berbagai isu dan stigma negatif yang kerap dialamatkan kepada penyuluh agama Islam di wilayah tersebut.
Ketua Pimpinan Daerah (PD) IPARI Abdya, Nazli Hasan, meminta sebanyak 61 orang Penyuluh Agama Islam di bawah naungan Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Abdya untuk lebih aktif mempublikasikan setiap kegiatan bimbingan dan penyuluhan di lapangan ke media sosial.
Langkah ini dinilai penting agar masyarakat mengetahui secara terukur tugas pokok dan fungsi (tupoksi) penyuluh yang sebenarnya di tengah masyarakat.
Pernyataan ini disampaikan Nazli Hasan usai menyahuti dorongan dan arahan dari Kepala Kantor Kemenag Abdya, Dr. H. Marwan Z, S.Ag, M.Ag, dalam kegiatan Rapat Pembinaan dan Evaluasi Kinerja Penyuluh Agama bersama IPARI Abdya di Blangpidie, Rabu (27/8/2026).
“Sangat penting bagi seluruh 61 penyuluh agama di Abdya untuk selalu menginformasikan dan mempublikasikan setiap kegiatan penyuluhan yang dilakukan di lapangan. Hal ini berkaitan erat untuk menepis tuduhan atau persepsi keliru di tengah masyarakat yang menganggap penyuluh tidak bekerja serta banyak berada di warung kopi,” tegas Nazli Hasan saat memberikan keterangannya, Rabu (27/8/2026).
Nazli menjelaskan, keberadaan penyuluh di kantor KUA maupun Kankemenag bukan semata-mata untuk formalitas. Di kantor, penyuluh aktif berdiskusi merancang program kerja strategis bersama pimpinan setempat sebelum terjun langsung ke lapangan.
“Di kantor, penyuluh hadir selain merancang program yang akan dilakukan, juga mendiskusikan kegiatan bersama Kepala KUA. Dengan demikian, setiap kegiatan penyuluhan yang turun ke lapangan selalu terpantau dan diketahui langsung oleh pimpinan,” terang Nazli.
Di era serba digital saat ini, Nazli menekankan bahwa penyuluh dituntut kreatif dan inovatif dalam mengemas konten keagamaan serta menyampaikan hasil kerja bimbingannya. Tujuannya agar dampak kehadiran penyuluh dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
Apalagi, kata Nazli, saat ini Kabupaten Abdya tengah dihadapkan pada persoalan sosial memprihatinkan yang menjadi sorotan publik, seperti temuan 17 warga Abdya terindikasi HIV serta maraknya isu LGBT.
“Problem sosial yang tengah viral saat ini di mana 17 warga Abdya terindikasi kena HIV, serta persoalan sosial lain seperti LGBT yang marak menjadi persoalan di tengah masyarakat, penyuluh harus hadir memberikan edukasi keagamaan secara masif agar persoalan tersebut bisa diminimalisir penyebarannya,” ungkap Nazli Hasan.
Ia menambahkan, penanganan masalah moral dan kesehatan masyarakat tersebut tidak bisa dilakukan sendiri oleh penyuluh agama. Oleh sebab itu, IPARI Abdya siap memperkuat koordinasi lintas sektor.
“Kami akan memperkuat koordinasi penyuluhan lintas sektor agar persoalan sosial, baik maraknya LGBT maupun bahaya HIV, bisa kita atasi dan selesaikan secara bersama-sama,” tuturnya.
Arahan Kakankemenag Abdya
Sebelumnya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat Daya, Dr. H. Marwan Z, S.Ag, M.Ag, mendorong seluruh Penyuluh Agama Islam yang berjumlah 61 orang agar memperluas jangkauan dakwah melalui media sosial serta aktif merespons berbagai isu berkembang.
Marwan menekankan, pemanfaatan ruang digital dapat menjadi bagian penting dari pelaksanaan bimbingan keagamaan yang menyejukkan.
“Tulis dan sampaikan di ruang-ruang digital. Angkat isu-isu yang berkembang di masyarakat, sehingga kita sebagai Kementerian Agama mampu menjadi penengah dan berdampak,” ujar Marwan saat memberikan arahan.
Ia menambahkan, salah satu isu krusial yang perlu mendapat bimbingan khusus adalah penanganan maraknya LGBT dan penguatan toleransi antarumat beragama.
“Salah satu isu yang berkembang adalah LGBT, yang perlu direspons melalui bimbingan dan edukasi kepada masyarakat. Kalau tidak mampu mencegah, setidaknya kita sudah menyuarakannya,” tegas Kakankemenag Abdya.
Marwan juga mengingatkan agar penyuluh memanfaatkan mimbar Jumat, majelis taklim, serta memperkuat sinergi dengan sekolah, lembaga pemasyarakatan (Lapas), dan unsur masyarakat lainnya agar pesan keagamaan Kemenag benar-benar sampai ke akar rumput. (*)




