Blangpidie – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Aceh Barat Daya (Abdya), menitipkan harapan kepada Kapolres Abdya yang baru, AKBP Ade Gita Rachmadi, agar segera menuntaskan berbagai persoalan hukum yang masih menjadi sorotan di tengah masyarakat.
Salah satu yang dinilai paling mendesak adalah dugaan praktik penimbunan dan penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang disebut telah berlangsung cukup lama.
Harapan tersebut disampaikan Ketua Umum IMM Abdya, Khairul Rijal, melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Khairul Rijal, pergantian pimpinan di tubuh Polres Abdya diharapkan menjadi momentum untuk memperbaiki penegakan hukum, khususnya terhadap persoalan yang selama ini dinilai belum ditangani secara maksimal.
“Masih banyak persoalan yang belum benar-benar disentuh dengan serius oleh aparat keamanan. Salah satunya adalah persoalan kelangkaan BBM yang disebabkan oleh praktik penimbunan minyak oleh oknum-oknum yang tidak berperikemanusiaan,” katanya.
Ia menilai praktik tersebut memberikan dampak langsung terhadap masyarakat, terutama mereka yang menggantungkan mata pencaharian di sektor transportasi dan membutuhkan BBM subsidi setiap hari.
“Solar subsidi hari ini sangat langka, maka tak jarang kita temui antrean panjang yang mengular di sekitaran SPBU,” ujar Khairul.
Khairul menyebut salah satu lokasi yang menjadi sorotan adalah SPBU Babahrot. Menurutnya, di lokasi tersebut kerap ditemukan kendaraan yang diduga telah dimodifikasi untuk menampung BBM dalam jumlah besar.
“SPBU Babahrot adalah contoh nyata dari keberadaan praktik gelap tersebut. Setiap harinya, kita bisa mendapati ada banyak mobil setan bak lintah penghisap darah di sana,” ucapnya.
Ia juga menduga terdapat kendaraan roda empat yang telah dimodifikasi sehingga mampu mengisi BBM hingga bernilai jutaan rupiah dalam sekali transaksi.
“Ini sudah bukan rahasia umum lagi. Tentu ada bekingan yang hebat-hebat berdiri di balik layar. Karena yang melangsir minyak sendiri adalah masyarakat yang notabenenya punya rasa takut akan melanggar aturan,” katanya.
Khairul mengaku prihatin karena dugaan praktik tersebut dinilai berlangsung secara terbuka. Menurutnya, aturan yang seharusnya mengawasi distribusi BBM subsidi seolah tidak berjalan sebagaimana mestinya.
“Tapi, hari ini kita dapati di SPBU-SPBU yang ada di Abdya seolah tidak berlaku lagi yang namanya aturan dan hukum,” ujarnya.
Ia bahkan menduga adanya keterlibatan oknum tertentu dalam praktik tersebut, meski meminta aparat penegak hukum membuktikan hal itu melalui penyelidikan yang objektif.
“Ini yang kita herankan. Ada oknum-oknum tertentu yang ikut bermain dengan pihak SPBU dan awak pelangsir. Juga tidak menutup kemungkinan aparat keamanan sendiri juga ikut terlibat. Karena banyak omongan di kaki lima yang dengan vulgar mengatakan mereka itu dibekingi oleh brimob dan orang-orang berpangkat besar,” katanya.
Karena itu, Khairul berharap Kapolres Abdya yang baru menjadikan persoalan distribusi BBM subsidi sebagai salah satu prioritas penegakan hukum.
“Maka ini adalah satu poin yang menjadi PR bagi Polres baru Abdya. Jangan sempat bermain mata pula dengan problem ini,” tegasnya.
Ia menambahkan, pernyataan tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kepentingan masyarakat sekaligus menjadi pengingat bagi aparat penegak hukum agar memastikan distribusi BBM subsidi berjalan sesuai ketentuan.
“Melalui keterangan tertulis ini menjadi alarm penting kepada aparat kepolisian. Mahasiswa, khususnya kader-kader muda Muhammadiyah, akan terus mengawal persoalan ini. Maka kita lihat beberapa tempo waktu ke depan, apabila soalan ini belum juga tuntas, maka nanti kita akan menggunakan suara rakyat untuk menuntaskan,” tutup Khairul Rijal.
Informasi, AKBP Ade Gita Rachmadi menggantikan Kapolres Abdya sebelumnya, AKPB Agus Sulistianto. (*)
