Blangpidie – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), resmi dibuka di Masjid An-Naja Gampong Cot Manee, Minggu malam (10/5/2026).
Kegiatan itu dibuka oleh Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Abdya, Amrizal, mewakili Bupati Abdya Safaruddin.
Pembukaan MTQ dihadiri unsur Forkopimcam Jeumpa, anggota DPRK Abdya, kepala SKPK, imuem mukim, para keuchik, serta masyarakat setempat.
Camat Jeumpa Arie Warisman mengatakan, MTQ tingkat kecamatan tahun ini diikuti 77 peserta dari 12 gampong.
Cabang yang diperlombakan meliputi tartil Al-Qur’an putra-putri, tilawah anak, remaja, dewasa, hifzhil Qur’an 1 juz dan 20 juz, serta syarhil Qur’an.
“Kegiatan akan berlangsung selama lima hari. Mulai Minggu tanggal 10 sampai dengan 15 Mei. Bagi masyarakat umum kita mengajak untuk memeriahkan kegiatan ini hingga selesai sekaligus memberikan dukungan kepada peserta,” kata Arie.
Dalam sambutannya, Plt Sekda Abdya Amrizal menegaskan MTQ tidak boleh sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Menurut dia, kegiatan tersebut harus mampu melahirkan generasi muda yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“MTQ harus melahirkan generasi Jeumpa yang berakhlak Qur’ani. Hafal Al-Qur’an, paham isinya dan amalkan dalam kehidupan. Jangan cuma pinter di panggung, tapi kosong di gampong,” ujar Amrizal.
Ia mengatakan, Abdya saat ini tengah mempersiapkan diri sebagai tuan rumah MTQ Provinsi Aceh ke-38 pada 2027. Karena itu, pelaksanaan MTQ di tingkat kecamatan dinilai penting sebagai bagian dari pembinaan dan seleksi qari-qariah terbaik daerah.
Menurut Amrizal, kesiapan menjadi tuan rumah bukan hanya soal fasilitas dan penyelenggaraan, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia yang mencerminkan nilai-nilai Al-Qur’an. Ia berharap Abdya tidak hanya sukses sebagai penyelenggara, tetapi juga mampu berprestasi di ajang MTQ tingkat provinsi.
“Kita juga ingin dikenal sebagai daerah yang mampu melahirkan generasi Qur’ani yang unggul, yang tidak hanya fasih dalam melantunkan ayat, tetapi juga kuat dalam mengamalkan nilai-nilainya,” ucapnya.
Amrizal menambahkan, di tengah perkembangan zaman dan arus informasi yang semakin terbuka, generasi muda membutuhkan pegangan moral dan spiritual yang kuat. Menurut dia, Al-Qur’an harus menjadi pedoman dalam kehidupan agar masyarakat tidak kehilangan arah di tengah perubahan sosial yang cepat.
“Dalam situasi seperti ini, Al-Qur’an tidak boleh hanya menjadi simbol. Ia harus menjadi pusat, rujukan dan kompas yang menuntun kita agar tidak kehilangan arah. MTQ adalah salah satu ikhtiar kita untuk memastikan hal itu tetap hidup,” pungkasnya. (*)
