Blangpidie – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) terus berupaya menangani persoalan pendangkalan dan sedimentasi di muara Lhok Pawoh, Kecamatan Manggeng.
Berbagai langkah penanganan, baik jangka pendek maupun jangka panjang, terus dilakukan oleh pemerintah daerah untuk menyelamatkan aktivitas nelayan setempat.
Kondisi muara yang kerap dangkal dan menyempit akibat tumpukan pasir laut, serta material karang membuat perahu nelayan kerap tersangkut, kandas, mengalami kerusakan, hingga terancam terbalik dihantam ombak.
Akibatnya, para nelayan terpaksa harus cermat memperhitungkan waktu pasang surut sebelum nekat pergi melaut.
Kepala Dinas Pangan, Kelautan, dan Perikanan (DPKP) Abdya, Hamdani, mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah berulang kali berupaya melakukan penanganan terhadap muara Lhok Pawoh.
Langkah tersebut dimulai dengan pengalokasian anggaran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) 2025 untuk pengerukan kolam labuh dan mulut Muara Lhok Pawoh.
Kemudian pada Agustus 2026, di mana Panglima Laot bersama Kelompok Masyarakat Nelayan bergotong royong menyedot pasir menggunakan mesin pompa milik Dinas Pertanian Abdya.
Kendati demikian, pekerjaan tersebut sempat terkendala oleh adanya tumpukan pecahan karang keras di mulut muara.
Menyikapi hambatan di lapangan, Bupati Abdya langsung memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk mengerahkan alat berat yang lebih memadai demi mempercepat proses normalisasi alur muara.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemkab daerah melalui DPKP Abdya telah mengusulkan pembangunan lanjutan breakwater atau jetty dengan mengacu pada Detail Engineering Design (DED) yang telah disusun pada 2018 silam.
“Sedimentasi, pendangkalan, abrasi pantai, serta potensi banjir tetap berulang. Karena itu, kita upayakan pengusulan pembangunan lanjutan breakwater atau jetty,” kata Hamdani.
Sementara itu, Panglima Laot Kabupaten Abdya, T. Indra Kusuma, mengajak para nelayan untuk terus menjaga kekompakan dan mengedepankan semangat kebersamaan dalam menghadapi persoalan ini secara swadaya.
“Harapan kami, masyarakat nelayan tetap kompak dan mengedepankan kebersamaan. Dengan musyawarah dan mufakat, persoalan pendangkalan Muara Lhok Pawoh dapat segera tertangani dengan baik,” ujar T. Indra Kusuma.
Sebelumnya, para nelayan mengeluh lantaran sering tersumbatnya muara Lhok Pawoh Manggeng. Sehingga menghambat keluar masuk perahu atau kapal mereka di muara tersebut.
Persoalan ini telah berlangsung bertahun-tahun. Tumpukan pasir, lumpur, dan material keras di mulut muara membuat nelayan harus menyesuaikan aktivitas melaut dengan pasang surut air laut.
“Kami sedih, setiap mau keluar melaut itu seperti mau perang. Harus lihat pasang surut. Kalau salah perhitungan, perahu bisa kandas dan pecah kena tumpukan pasir dan batu. Padahal kami hanya ingin mencari nafkah untuk keluarga,” ujar seorang nelayan, Jumat (18/09/2026).
Para nelayan berharap adanya pengerukan muara dengan alat berat secara rutin dan pembangunan breakwater (pemecah ombak) agar alur muara tetap terbuka. (*)




