Blangpidie – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menggelar musyawarah turun ke sawah untuk Musim Tanam (MT) Gadu 2026 di halaman Kantor Dinas Pertanian Abdya, Kamis (7/5/2026). Kegiatan tersebut dibuka Wakil Bupati Abdya, Zaman Akli.
Musyawarah itu turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kelompok tani, serta para Keujruen dan Hop Keujruen sebagai tokoh adat persawahan di daerah setempat.
Dalam sambutannya, Zaman Akli mengatakan musyawarah turun ke sawah menjadi ruang bersama untuk membaca kondisi alam, memahami tantangan pertanian, serta menyusun langkah yang lebih terarah demi menjaga ketahanan pangan daerah.
Ia menyebutkan, Aceh Barat Daya merupakan salah satu lumbung pangan di kawasan Barat Selatan Aceh dengan luas lahan sawah mencapai 7.153 hektare.
“Kita juga diberkahi dengan lahan yang subur, sumber air yang memadai, serta masyarakat petani yang ulet dan berpengalaman. Namun, kita juga harus jujur bahwa tantangan yang kita hadapi ke depan tidaklah ringan. Perubahan iklim, ketidakpastian musim, serangan hama, serta dinamika harga dan distribusi menjadi faktor-faktor yang harus kita sikapi dengan bijak dan terencana,” ujar Zaman Akli.
Menurut dia, musyawarah tersebut memiliki peran strategis dalam menentukan jadwal tanam serentak, pola tanam yang tepat, hingga langkah teknis yang harus dilakukan bersama.
Keseragaman waktu tanam, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan efisiensi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pengendalian hama dan peningkatan produktivitas pertanian.
“Saya ingin menekankan bahwa keberhasilan musim tanam tidak hanya ditentukan oleh petani semata, tetapi juga oleh sinergi semua pihak,” katanya.
Zaman Akli mengatakan pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian akan terus menghadirkan program yang tepat sasaran dan dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh petani.
“Penyuluh harus aktif mendampingi petani di lapangan, dan para petani harus terbuka terhadap inovasi dan teknologi pertanian yang terus berkembang,” kata Zaman Akli.
Ia menilai sektor pertanian saat ini tidak bisa lagi sepenuhnya mengandalkan pola lama. Menurut dia, penerapan teknologi pertanian modern dan efisien perlu terus didorong, mulai dari penggunaan benih unggul, pemupukan yang tepat, pengelolaan irigasi, hingga pemanfaatan alat dan mesin pertanian.
“Saya juga ingin mengingatkan bahwa pertanian bukan hanya soal produksi, tetapi juga soal kesejahteraan petani. Kita ingin memastikan bahwa setiap butir padi yang dihasilkan benar-benar memberikan nilai tambah bagi petani. Oleh karena itu, kita harus mulai memikirkan aspek pascapanen, distribusi, hingga akses pasar,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Abdya, lanjut dia, berkomitmen mendukung sektor pertanian melalui pembangunan infrastruktur, bantuan sarana produksi, dan penguatan kelembagaan petani.
“Saya percaya, dengan semangat kebersamaan dan kerja keras, kita mampu menjadikan Abdya sebagai daerah yang mandiri pangan, bahkan menjadi lumbung padi yang membanggakan di tingkat provinsi maupun nasional,” ucapnya.
Zaman Akli juga mengajak seluruh peserta musyawarah memanfaatkan forum tersebut untuk menyusun keputusan terbaik bagi kemajuan pertanian daerah.
“Mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk berdiskusi, bertukar pikiran, dan menghasilkan keputusan-keputusan yang terbaik bagi kemajuan pertanian kita,” ajaknya.
Dalam kesempatan itu, Zaman Akli menyebutkan Pemerintah Abdya akan menghadirkan empat unit traktor 4WD pada 2026. Sebelumnya, tujuh unit traktor juga telah didatangkan pada 2025 untuk mendukung sektor pertanian.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Abdya, Hendri Yadi, mengatakan musyawarah turun ke sawah merupakan bagian dari kearifan lokal dalam menentukan waktu tanam yang tepat bagi petani.
Menurut dia, jadwal masa tanam direncanakan berlangsung mulai pekan pertama Mei hingga Juni 2026.
“Ini adalah langkah strategis untuk memastikan Abdya tetap menjadi penyangga pangan utama di wilayah pantai barat selatan Aceh,” ujarnya. (*)



Tinggalkan Balasan