Blangpidie – Dewan Pimpinan Wilayah Jaringan Anek Syuhada (DPW JASA) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengecam keras aksi dugaan penembakan oleh oknum TNI terhadap warga Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie.

Insiden berdarah yang menewaskan satu warga tersebut terjadi saat pengibaran bendera bulan bintang dalam momen perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ketua DPW JASA Abdya, Rahmad Riski Alfaris, menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat di Aceh untuk bersatu mengawal penanganan kasus hukum ini agar berjalan adil dan transparan.

“Kami mengajak semua elemen masyarakat, baik eks kombatan hingga seluruh lapisan JASA di Aceh, untuk mengawal insiden berdarah yang merenggut nyawa saudara kita ini supaya diadili secara terbuka,” tegas Riski saat memberikan keterangan di Blangpidie, Jumat (6/11/2026).

Riski menekankan pentingnya penegakan hukum yang berkeadilan bagi oknum prajurit yang terlibat. Menurutnya, peristiwa ini kembali membuka luka lama masyarakat Aceh yang telah lama mendambakan kedamaian.

ADVERTISEMENT

“Musuh TNI bukanlah masyarakat. Tugas utama mereka adalah mengayomi dan melindungi warga, bukan menjadikan masyarakat sebagai musuh. Terlebih lagi insiden ini terjadi di tengah suasana perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.

Lebih lanjut, Riski mendesak Pemerintah Aceh untuk berdiri dan berpihak kepada kepentingan rakyat. Ia juga mengingatkan agar jajaran TNI senantiasa menghormati serta merawat komitmen perdamaian antara Aceh dan Pemerintah Pusat yang tertuang dalam nota kesepahaman (MoU) Helsinki.

ADVERTISEMENT

“Jangan biarkan trauma masa konflik yang sudah berganti damai kembali terulang. MoU Helsinki adalah pedoman bersama. Kami atas nama pengurus DPW JASA Abdya menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas tragedi kemanusiaan di Tiro, Pidie ini,” pungkasnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, tragedi tersebut mengakibatkan satu orang warga meninggal dunia di lokasi kejadian, sementara sejumlah warga lainnya mengalami luka-luka dan saat ini masih menjalani perawatan medis intensif. (*)

Editor: Fakhrul Razi
Penulis: Salman Sy