Banda Aceh – PT Pembangunan Aceh (Perseroda) atau PT PEMA terus memacu percepatan investasi strategis di sektor industri konstruksi. Hal ini ditunjukkan lewat kunjungan langsung Direktur Utama PT PEMA, Mawardi Nur, saat meninjau progres Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, Aceh Besar.
Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan kawasan sekaligus memantau tahapan pembangunan pabrik baja ringan yang menjadi salah satu tenant utama.
Industri ini diproyeksikan menjadi tonggak awal terbentuknya klaster konstruksi terintegrasi guna mendongkrak daya saing manufaktur di Aceh.
Dalam pengembangannya, PT PEMA menggandeng PT Indo Surya Gavalum (ISG) Group melalui PT Aceh Global Steel. Kemitraan ini tak hanya memboyong investasi fasilitas produksi, tetapi juga membawa misi transfer teknologi, peningkatan kompetensi SDM, hingga penguatan kapasitas industri lokal.
Direktur Utama PT PEMA, Mawardi Nur, mengatakan, pembangunan pabrik ini merupakan strategi jangka panjang untuk menciptakan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
“Kawasan Industri Aceh Ladong kami siapkan menjadi pusat pertumbuhan industri baru yang produktif, modern, dan kompetitif.
Kerja sama ini bukan sekadar membangun sebuah pabrik, tetapi membangun fondasi industri konstruksi Aceh agar mampu memenuhi kebutuhan daerah, mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar Aceh, sekaligus menarik investasi lanjutan ke Aceh,” ujar Mawardi Nur, dalam keterangannya, Selasa (28/7/2026).
Pada tahap awal, pabrik baja ringan tersebut akan mengolah lahan seluas 5 hektar di dalam kawasan KIA Ladong. Dengan cakupan area tersebut, fasilitas ini ditargetkan mampu mencetak kapasitas produksi hingga 2.000 ton baja ringan per bulan untuk menyuplai pasar Aceh dan sekitarnya.
Ke depan, kawasan ini dirancang berkembang menjadi klaster berisi empat pabrik baja ringan terpadu guna memperkuat rantai pasok material konstruksi nasional.
Selain memicu pertumbuhan manufaktur, keberadaan proyek ini diyakini membawa dampak ekonomi berantai (multiplier effect), mulai dari penyerapan tenaga kerja lokal hingga menghidupkan usaha-usaha pendukung di sekitar kawasan.
“Setiap investasi yang kami hadirkan harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami ingin industri ini membuka lapangan kerja baru bagi putra-putri Aceh, menggerakkan pelaku usaha dan jasa pendukung, serta menciptakan multiplier effect yang berkelanjutan bagi perekonomian daerah,” katanya.
“Inilah komitmen PT PEMA sebagai Badan Usaha Milik Aceh dalam mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” tegas Mawardi.
Dengan modal lahan yang memadai, percepatan infrastruktur dasar, serta akses logistik strategis yang dekat dengan pusat-pusat kegiatan ekonomi, KIA Ladong dinilai memiliki potensi besar menjadi magnet pertumbuhan ekonomi baru di Aceh.
PT PEMA pun terus membuka pintu kolaborasi bagi investor, pelaku usaha, lembaga pendidikan, hingga mitra strategis lainnya. Sinergi ini diharapkan mampu membangun ekosistem industri yang kompetitif, memperluas lapangan kerja, dan mempercepat transformasi ekonomi Aceh menuju daerah yang lebih maju, mandiri, dan berdaya saing. (*)




